Merespon Ruang Senja

We Care-Blog

Kisah Pilu, Musisi Jogja ini Kehilangan Ayahanda saat Release lagu Pertamanya

logo buled-01

Troya care

Official Author / 22 July 2021               

Fairuz Realindra, seorang seniman asal Jogja yang kerap di panggil dengan Real ini mengeluarkan sebuah single baru yang bertajuk ‘Merespon Ruang Senja’ pada tanggal 30 Juni 2021. 

Lagu ini jadi karya pertamanya debut sebagai seorang musisi dengan nuansa lagu akustik dengan alunan melankolisnnya. Selalu ada cerita dibalik sebuah karya, ungkapan itu mungkin sangat tepat untuk mengawali perkenalan tentang lagu pertama seorang Fairuz Realindra ini.

Telah rilis kurang lebih beberapa belas hari ini, lagu ini memiliki banyak hal yang menarik perhatian dan respon yang tidak hanya baik, namun juga memilki kesan yang mendalam dari banyak orang, termasuk khususnya bagi sang penyanyinya sendiri, yaitu Real. Simak kisah selengkapnya di sini!

‘Merespon Ruang Senja’ merupakan lagu akustik pop yang mengkombinasikan alunan nada dari instrumen piano, gitar, dan cello. Lagu ini dinyanyikan oleh Fairuz Realindra dan digubah oleh seorang seniman asal Jogja, yaitu Setyawancello. Lirik lagunya sendiri diambil dari puisi Agung Wibowo dengan judul dan isi tulisan yang sama. Memiliki alunan lagu yang melankolis, ala musik indie yang tengah banyak diminati sekarang, lagu ini pertama kali di rilis pada beberapa platform musik di Tanah Air. 

Selain dengan gubahan musik yang syahdu, dikutip dari obrolan podcast TroyaTribes (15/07/2021), Real menyebutkan bahwa lagu ini sangat enak didengarkan untuk menemani aktivitas ‘me time’ kita di sore hari. Lagu yang sangat menenangkan dan mengahangatkan dalam menemani kesendirian ataupun kebersamaan kita. Namun, bukan hanya menghibur, lagu ini juga mengajak kita untuk merefleksikan sesuatu yang tengah kita pikirkan. Penuh makna tersirat di dalam lirik-liriknya yang membuat lagu ini semakin menarik!

“Lagu ini sangat menarik dan unik untuk didengarkan lirik per liriknya.”, jelas Realinda tentang lagunya. Menurut penjelasan dari Mj. Amalina selaku rekan yang membantu proses pembuatannya, lagu ini merupakan gubahan musikalisasi puisi, yaitu dibuat berawal dari puisi atau karya sastra yang kemudian digubah menjadi sebuah lagu.

Lirik ini diambil dari karya puisi dengan judul yang sama tanpa ada gubahan sama sekali, Real juga menjelaskan bahwa sang penulis Agung Wibowo sendiri ingin karya tulisnya mengajak berdialog dengan pendengar lagu ini dengan membebaskan para pendengar untuk menginterpertasi atau memaknai lagu ini sesuai dengan perasaan dan pemikiran mereka sendiri. Salah satunya terungkap dari challenge #RuangSenjaku yang telah sebelumnya dilakukan, merupakan challenge yang membebaskan para pendengar ‘Merespon Ruang Senja’ membagikan momen mendalam mereka saat mendengarkan lagu ini. 

Oleh karena itu, lagu ini memiliki pemaknaan yang bebas dan memberikan kesempatan para pendengar untuk bercerita ulang tentang cerita mereka sendiri. Karya ini sangat unik ya!

Selain bisa memberikan kesan mendalam bagi pendengar, ternyata lagu ini sendiri memiliki banyak kenangan bagi sosok pribadi Fairuz Realindra. Lagu ini sangat bermakna dalam karena selama proses mempersiapkannya didampingi oleh banyak kejadian membekas bersama keluarganya.

 

Pada saat proses persiapan launching lagu, Real beserta keluarganya menjadi salah satu dari banyak orang yang terdampak virus COVID-19. Dimasa-masa menunggu perilisan karya pertama yang telah dinanti-nanti oleh Ia beserta keluarga, mereka harus berjuang menghadapi sakit melawan virus COVID-19.

Belum selesai dengan perjuangan itu, satu dari seluruh anggota keluarganya, yaitu sang Ayah harus lebih berjuang menjadi yang terakhir positif dan mengalami kondisi paling parah diantara yang lainnya. Dalam penantian karya tersebut, sang Ayah adalah orang pertama yang paling mendukung Real dalam berkarya di musik. Namun, ternyata Tuhan berkehendak yang lain, Real harus merelakan sang Ayah meninggalkannya selama-lamanya akibat terjangkit virus COVID-19. 

Tepat 1 hari setelah karyanya dirilis, sang Ayah harus pergi meninggalkan Real beserta keluarganya. Disaa-saat terakhir meninggalkan Real, sang Ayah masih dengan atusias menunggu lagu ‘Merespon Ruang Senja’ ini untuk di dengarkan. Hingga semalam sebelum beliau wafat, sang Ayah berkesempatan mendengarkan lagu pertama anaknya tersebut dengan suka dan cita menyambut karya lagu pertama anaknya yang telah lama Ia nanti.

“Lagu ini jadi lagu pertama dan terakhir untuk Ayah..” – Fairuz Realindra

Seperti cerita sebelumnya, Real mengungkapkan bahwa lagu ini mungkin lagu pertama dan terakhir yang Ia persembahkan untuk sang Ayah tercinta. Di malam awal saat Ia harus menyambut dengan suka cita karya lagu pertamanya, di malam itu pun Ia harus berjuang menemani sang Ayah yang tengah menghadapi kondisi kritis akibat terjangkit virus COVID-19. Malam itu juga Ia mendengarkan perilisan lagunya bersama Ayahnya di momen penuh suka dan duka yang dilewatinya di UGD. 

Malam itu bersamaan dengan menyambut karya pertamanya, Ia juga harus berjuang mencarikan Ayahnya rumah sakit untuk rawat inap, karena kondisi Ayahnya yang semakin memburuk. Namun, pada saat itu memang keadaan memang belum bisa mendukungnya dan keluarga untuk memperjuangkan kesehatan Ayahnya. Hingga pada akhirnya, walaupun sang Ayah telah mendapatkan perawatan mereka tetap harus merelakan kepergian Ayahanda tercinta

Cinta, Haru dan Kado Terakhir

Lagu ini bagi Real adalah sebuah karya paling berarti baginya, ada sebuah momen yang tidak akan pernah terlupakan baginya. Makna ‘Merespon Ruang Senja’ baginya ini berarti, dari kata ‘senja’ buatnya adalah sebuah kisah akhir dan awal dari sebuah cerita, sedangkan merespon ruang ini berarti bagaimana caranya menanggapi akhir dan awal  cerita yang Ia alami dalam menerima kepergian Ayahnya. 

Lagu ini juga menjadi sebuah karya tak terlupakan maknanya bagi Real, dimana Ia harus dengan tegar menerima kepergian Ayahandanya dan juga harus bersiap untuk mengawali perjalanan hidupnya lagi tanpa sang Ayahanda. Baginya, sang Ayah adalah sosok terdekat dan pendukung paling kuat yang selalu menyemangatinya untuk terus berkarya dalam dunia seni. 

Menurut Real sendiri, Ayahnya lah yang paling menanti seorang Real bisa memiliki lagu sendiri, akan tetapi ternyata siapa sangka bahwa lagu ini jadi kado terakhir untuk Ayahnya sebelum menutup usia. Hingga detik-detik terakhir menutup usia, lagu ini menemani beliau di rumah sakit sendirian menanti ajal. Masih sempat teringat bagi Real, semalam sebelum menutup usia bahwa sang Ayah masih bersemangat menanti video klip lagu ini yang akan di rilis pada official youtube Fairuz Realindra.

Lagu ini menjadi saksi bisu terakhir bagi sang Ayah dalam mengungkapkan kebanggaannya terhadap sang putri akan keberhasilannya telah memberikan kado indah terakhir di sepanjang usianya. Dibalik kisah ini, lagu ini memberikan sebuah kesan mendalam dengan momen yang penuh akan kasih sayang, haru hingga sedih yang akan selalu Real kenang selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *